Asal-Usul Perjudian di Dunia Kuno: Tiongkok, Romawi, dan Mesir

Jauh sebelum istilah casino dikenal dunia modern, manusia sudah lebih dulu mengenal permainan yang melibatkan keberuntungan. Dari papan kayu sederhana hingga dadu yang dipahat dari tulang, praktik perjudian telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat kuno. Menariknya, perjudian tidak selalu dipandang sebagai hiburan semata, tetapi juga berkaitan erat dengan kepercayaan, ritual, dan status sosial.

Tiga peradaban besar—Tiongkok, Romawi, dan Mesir—menyimpan jejak paling awal tentang bagaimana manusia mulai “bermain dengan nasib”.


Perjudian di Tiongkok Kuno

Catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Tiongkok sudah mengenal permainan berbasis peluang sejak ribuan tahun lalu. Salah satu temuan arkeologis paling menarik adalah kepingan ubin dan alat permainan yang diperkirakan berasal dari sekitar 2300 SM. Banyak sejarawan meyakini bahwa bentuk awal permainan ini menjadi cikal bakal undian dan lotere.

Pada masa dinasti awal, perjudian sering dikaitkan dengan pendanaan proyek besar. Ada dugaan bahwa sistem undian pernah digunakan untuk membantu pembiayaan pembangunan infrastruktur penting. Selain itu, permainan kartu awal juga diyakini muncul di Tiongkok, jauh sebelum menyebar ke Timur Tengah dan Eropa.

Namun, perjudian tidak selalu diterima secara bebas. Beberapa kaisar memberlakukan larangan ketat karena dianggap merusak moral dan stabilitas sosial. Meski begitu, praktik ini tetap bertahan secara diam-diam, menunjukkan betapa kuatnya daya tarik permainan berbasis keberuntungan bagi masyarakat.


Perjudian di Romawi Kuno

Berbeda dengan Tiongkok, perjudian di Romawi berkembang sangat pesat sebagai bagian dari hiburan publik. Orang Romawi gemar bermain dadu, bertaruh pada pertandingan gladiator, hingga mempertaruhkan hasil balapan kereta kuda. Perjudian bukan hanya milik kalangan bawah, tetapi juga digemari bangsawan dan bahkan tentara.

Secara hukum, perjudian sebenarnya dibatasi. Undang-undang Romawi hanya mengizinkan taruhan pada momen tertentu, seperti festival keagamaan. Namun dalam praktiknya, hukum ini sering diabaikan. Banyak rumah pribadi berubah menjadi tempat taruhan rahasia, dan para pemain menggunakan dadu kecil yang mudah disembunyikan.

Menariknya, perjudian di Romawi juga memiliki sisi religius. Banyak pemain percaya bahwa dewa-dewa ikut campur dalam hasil permainan. Oleh karena itu, sebelum bertaruh, sebagian orang melakukan ritual kecil atau persembahan agar keberuntungan berpihak pada mereka.


Perjudian di Mesir Kuno

Di Mesir Kuno, perjudian lebih sering muncul dalam bentuk permainan papan dan aktivitas rekreasional yang berkaitan dengan kehidupan setelah mati. Salah satu permainan paling terkenal adalah Senet, sebuah permainan papan yang sering ditemukan di makam para bangsawan dan firaun.

Berbeda dengan Romawi yang terang-terangan bertaruh, masyarakat Mesir lebih halus dalam mengekspresikan unsur keberuntungan. Permainan seperti Senet tidak hanya dianggap hiburan, tetapi juga simbol perjalanan jiwa di alam baka. Meski tidak selalu melibatkan taruhan uang, unsur peluang tetap hadir melalui lemparan stik atau tulang sebagai penentu langkah.

Beberapa bukti arkeologi juga menunjukkan penggunaan dadu primitif dari tulang dan gading. Hal ini menandakan bahwa konsep untung-untungan sudah dikenal luas, meskipun tidak sekomersial peradaban lain.


Perjudian sebagai Cerminan Budaya Manusia

Dari Tiongkok hingga Mesir, satu benang merah dapat ditarik: perjudian tumbuh seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Ia bukan sekadar permainan, melainkan cerminan cara manusia memahami nasib, keberuntungan, dan ketidakpastian hidup.

Di satu sisi, perjudian menjadi sarana hiburan dan interaksi sosial. Di sisi lain, ia kerap dipandang berbahaya jika tidak dikendalikan. Pandangan ganda inilah yang terus bertahan hingga era modern, ketika kasino dan permainan digital berkembang pesat di seluruh dunia.


Penutup

Sejarah perjudian di dunia kuno membuktikan bahwa ketertarikan manusia terhadap keberuntungan bukanlah fenomena baru. Dari ubin sederhana di Tiongkok, dadu Romawi, hingga permainan papan Mesir, semua menunjukkan bahwa sejak dahulu manusia selalu mencari cara untuk “bernegosiasi” dengan nasib.

Memahami asal-usul ini membantu kita melihat perjudian bukan hanya sebagai aktivitas modern, tetapi sebagai bagian panjang dari perjalanan budaya manusia.